Selasa, 08 Oktober 2013

Makalah "Kanker Serviks"

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Kanker serviks merupakan penyakit kanker perempuan yang menimbulkan kematian terbanyak akibat penyakit kanker terutama di Negara berkembang. Diperkirakan dijumpai kanker serviks baru sebanyak 500.000 orang diseluruh dunia dan sebagian besar terjadi di Negara berkembang.
Di Indonesia, setiap satu jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Penyakit ini sering disebut juga “silent killer” karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker ini membutuhkan waktu cukup lama, yaitu sekitar 10 – 20 tahun.
Salah satu penyebabnya adalah karena infeksi human Papilloma Virus (Hpv)yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks. Dalam perkembangan kemajuan di bidang biologi molekuler dan epidemologi tentang, kanker serviks disebabkan oleh virus Hpv . banyak penelitian dengan studi kasus kontrol dan kohort didapatkan Risiko Relatif (RR) hubungan antara infeksi Hpv dan kanker serviks antara 20 sampai 70. Infeksi Hpv merupakan penyakit menular seksual yang utama pada populasi, dan estimasi terjangkit berkisar 14 – 20% pada Negara-negara di Eropa sampai 70% di Amerika Serikat, atau 95% di populasi di Afrika. Lebih dari 70% kanker serviks disebabkan oleh infeksi Hpv tipe 16 dan 18. Infeksi Hpv mempunyai prevalensi yang tinggi pada kelompok usia muda, sementara kanker serviks baru timbul pada usia puluhan tahunan atau lebih.
Kesintasan hidup 5 tahun pada kanker serviks jenis skuamosa dengan berbagai modalitas pada 9.964 kasus.
Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 7,16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Asam amino tersebut adalah aspartat pada HPV risiko tinggi dan glisin pada HPV risiko rendah dan sedang (Gastout et al, 1996). Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker leher rahim. Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat perbedaan probabilitas terjadinya kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV-18 baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan (Bosch et al, 2002). Akan tetapi sifat onkogenik HPV-18 lebih tinggi daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana transformasi HPV-18 adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16. Selain itu, didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat meningkatkan virulensi virus dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16 berhubungan dengan skuamous cell carcinoma serviks sedangkan HPV-18 berhubungan dengan adenocarcinoma serviks. Prognosis dari adenocarcinoma kanker serviks lebih buruk dibandingkan squamous cell carcinoma. Peran infeksi HPV sebagai faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati kesepakatan, tanpa mengecilkan arti faktor resiko minor seperti umur, paritas, aktivitas seksual dini/prilaku seksual, dan merokok, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain dan beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan HSV-2 (Hacker, 2000).
Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyebab kematian akibat kanker yang terbesar bagi wanita di negara-negara berkembang. Secara global terdapat 600.000 kasus baru dan 300.000 kematian setiap tahunnya, yang hampir 80% terjadi di negara berkembang. Fakta-fakta tersebut membuat kanker leher rahim menempati posisi kedua kanker terbanyak pada perempuan di dunia, dan menempati urutan pertama di negara berkembang. Saat ini, kanker leher rahim menjadi kanker terbanyak pada wanita Indonesia yaitu sekitar 34% dari seluruh kanker pada perempuan dan sekarang 48 juta perempuan Indonesia dalam risiko mendapat kanker leher rahim. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada area leher rahim yaitu bagian rahim yang menghubungkan rahim bagian atas dengan vagina. Usia rata-rata kejadian kanker leher rahim adalah 52 tahun, dan distribusi kasus mencapai puncak 2 kali pada usia 35-39 tahun dan 60 – 64 tahun.


BAB II
ISI

A.    PENGERTIAN
Kanker serviks atau yang disebut juga sebagai kanker mulut rahim merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak ditakuti kaum wanita. Berdasarkan data yang ada, dari sekian banyak penderita kanker di Indonesia, penderita kanker serviks mencapai sepertiga nya. Dan dari data WHO tercatat, setiap tahun ribuan wanita meninggal karena penyakit kanker serviks ini dan merupakan jenis kanker yang menempati peringkat teratas sebagai penyebab kematian wanita dunia. Kanker serviks menyerang pada bagian organ reproduksi kaum wanita, tepatnya di daerah leher rahim atau pintu masuk ke daerah rahim yaitu bagian yang sempit di bagian bawah antara kemaluan wanita dan rahim.
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di daerah Skuamo Kolumner Junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut lesi prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus(HPV). Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat memicu kanker.

B.     MEKANISME KANKER SERVIKS
Secara normal gen-gen meregulasi pertumbuhan dan pembelahan sel selama siklus sel, seperti gen untuk faktor pertumbuhan beserta reseptornya dan molekul intraselular jalur persinyalan. Bila terjadi mutasi gen-gen dapat dalam sel somatik menyebabkan kanker. Pada kanker serviks agen pengubahnya sering dihubungkan dengan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker leher rahim. Sel kanker serviks yang diinfeksi HPV diketahui mengekspresikan 2 onkogen, yaitu E6 dan E7. Protein E6 dan E7 terbukti dapat menyebabkan sifat imortal pada kultur primer keratinosit manusia, namun sel yang imortal ini tidak bersifat tumorigenik hingga suatu proses genetik terjadi. Jadi, viral onkogen tersebut tidak secara langsung menginduksi pembentukan tumor, tetapi menginduksi serangkaian proses yang pada akhirnya dapat menyebabkan sifat kanker. Sifat immortal tersebut disebabkan karena kedua viral onkogen tersebut dapat menghambat ekspresi gen p53 yang mengendalikan apoptosis. Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi, 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 7, 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker leher rahim. Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki kemungkinan terkena kanker leher rahim sebesar 5%.













Tabel Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000
Stadium 0
Karsinoma insitu, karsinoma intrapitelial
Stadium I
Karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)
Stadium I A



I A1

I A2
Invasi kanker ke stroma hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik, lesi yang dapat dilihat makroskopik walau dengan invasi yang superficial dikelompokkan pada pada stadium IB
Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih 3,0 mm dan lebar horizontal lesi tidak lebih 7 mm
Invasi ke stroma lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan perluasan horizontal tidak lebih dari 7 mm
Stadium I B

I B1
I B2
Lesi yang tampak terbatas pada serviks atau secara mikroskopik lesi lebih luas dari stadium I A2
Lesi tampak tidak lebih dari 4 cm dari dimensi terbesar
Lesi tampak lebih dari 4 cm dari diameter terbesar
Stadium II

II A
II B
Tumor telah menginvasi di luar uterus, tetapi belum mengenai dinding panggul atau sepertiga distal/bawah vagina
Tanpa invasi ke parametrium
Sudah menginvasi parametrium
Stadium III
Tumor telah meluas ke dinding panggul dan/atau mengenai sepertiga bawah vagina dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal
IIIA


IIIB
Tumor telah meluas k eke sepertiga bawah vagina dan tidak invasi ke parametrium tidak sampai dinding panggul
Tumor telah meluas ke dinding panggul dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal
Stadium IV
Tumor meluas ke luar dari organ reproduksi
IV A


IV B
Tumor menginvasi ke mukosa kandung kemih atau rectum dan/atau ke luar dari rongga panggul minor
Metastasis jauh penyakit mikroinvasif : invasi stroma dengan kedalaman 3 mm atau kurang dari membrane basalis epitel tanpa invasi ke rongga pembuluh limfe/darah atau melekat dengan lesi kanker

C.    PENYEBAB KANKER SERVIKS
Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV), sekitar 70 – 80% disebabkan oleh HPV tipe 16 dan tipe 18.
-          Faktor Resiko :
1)      Usia sekitar 35 – 49 tahun
2)      Perkawinan muda < 20 tahun ; berhubungan seksual
3)      Mitra seksual ganda ( > 5 : 12 x )
4)      Wanita terkena PMS
5)      Wanita merokok
6)      Defisiensi Vitamin A, C, E
7)      Wanita yang sering hamil dan melahirkan

D.    GEJALA DAN TANDA
Tanda-tanda dini kanker serviks mungkin tidak menimbulkan gejala. Tanda-tanda spesifik seperti secret vagina yang agak berlebihan dan kadang-kadang disertai dengan bercak perdarahan, terasa sakit saat berhubungan seksual, pendarahan di luar menstruasi, keputihan yang abnormal. Pada penyakit lanjut keluhan berupa keluar cairan pervaginam yang berbau busuk, nyeri panggul, sering berkemih, BAK atau BAB yang sakit. Gejala penyakit yang residif berupa nyeri pinggang, edema kaki unilateral, dan obstruksi ureter.

E.     PEMERIKSAAN
Tes pap smear dan IVA test saat ini merupakan alat skrining yang diandalkan. Lima puluh persen pasien baru kanker serviks tidak pernah melakukan tes pap smear maupun IVA test. Test Pap smear direkomendasikan pada saat mulai melakukan aktivitas seksual atau setelah menikah. Setelah tiga kali pemeriksaan test pap smear tiap tahun, interval pemeriksaan dapat lebih lama (tiap 3 tahun sekali). Bagi kelompok perempuan yang berisiko tinggi (infeksi HPV, HIV, Kehidupan seksual yang berisiko) dianjurkan pemeriksaan tes Pap setiap tahun. Pemastian diagnosis dilaksanakan dengan biopsy serviks. Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan klinis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan ginekologik, termasuk evaluasi kelenjar getah bening, pemeriksaan panggul dan pemeriksaan rectal. Biopsy serviks merupakan cara diagnosis pasti dari kanker serviks, sedangkan tes Pap dan/atau kuret endoserviks merupakan pemeriksaan yang tidak adekuat. Pemeriksaan radiologic berupa foto paru-paru, pierologi intravena atau CT-scan merupakan pemeriksaan penunjang untuk melihat perluasan penyakit, serta menyingkirkan adanya obstruksi ureter. Pemeriksaan laboratorium klinik berupa pemeriksaan darah tepi, tes fungsi ginjal, dan tes fungsi hati diperlukan untuk mengevaluasi fungsi organ serta menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan.

F.     PERAN BIDAN DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT
Pencegahan :
-          Primer : bidan dapat memberikan penyuluhan kepada para wanita untuk menghindari penyebab dan factor resiko kanker serviks
-          Sekunder : bidan dapat menganjurkan untuk melakukan deteksi dini dengan pap smear dan IVA test
-          Tersier : bidan dapat memberikan penyuluhan untuk melakukan vaksin HPV 3 kali kepada remaja putrid yang belum melakukan hubungan seksual

G.    KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada kasus kanker serviks stadium lanjut, antara lain :
·         Nyeri
      Jika kanker menyebar ke ujung saraf, tulang atau otot sering dapat menyebabkan rasa nyeri yang luar biasa. Namun, sejumlah obat-obatan penghilang rasa sakit yang efektif biasanya dapat digunakan.
·         Gagal ginjal
Ginjal menghilangkan bahan limbah dari darah. Limbah dibuang keluar dari tubuh dalam urin melalui tabung yang disebut ureter. Dalam beberapa kasus kanker serviks stadium lanjut, tumor kanker (pertumbuhan jaringan abnormal) dapat menekan ureter, menghalangi aliran urin keluar dari ginjal. Sehingga urin tertampung dalam ginjal dikenal sebagai hidronefrosis dan dapat menyebabkan ginjal menjadi bengkak dan rusak.


·         Bekuan darah
Kanker serviks, seperti kanker lainnya, dapat membuat darah ‘lebih lengket’ dan membuatnya lebih rentan terhadap penyumbatan. Istirahat di tempat tidur setelah operasi dan kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko mengalami penggumpalan darah sehingga menyumbat aliran darah. Biasanya terjadi pada ektermitas bawah.
·         Pendarahan
      Jika kanker menyebar ke usus vagina atau kandung kemih, dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan, mengakibatkan pendarahan. Perdarahan dapat terjadi pada vagina, rektum (bagian belakang), atau mungkin mengeluarkan darah ketika buang air kecil.
·         Fistula
      Fistula merupakan komplikasi yang jarang terjadi namun menyedihkan yang terjadi di sekitar 1 dalam 50 kasus kanker serviks stadium lanjut.
Fistula adalah saluran abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh. Dalam kebanyakan kasus yang melibatkan kanker serviks, fistula berkembang antara kandung kemih dan vagina. Dan kadang-kadang fistula berkembang antara vagina dan dubur.














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di daerah Skuamo Kolumner Junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis.
Penyebab dari kanker serviks adalah Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini memang banyak tipenya namun, sekitar 70 % kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Virus ini dapat menyebar melalui sentuhan.
Gejala dari kanker serviks adalah diantaranya terasa sakit saat berhubungan seksual, mengeluarkan sedikit darah setelah berhubungan seksual, keluar darah yang berlebihan saat menstruasi, dan keputihan yang abnormal dll.

B.     SARAN
Dengan adanya makalah sederhana ini, penyusun mengharapkan agar para pembaca dapat memahami materi tentang penyakit ‘’Kanker Serviks’’ yang seharusnya kita ketahui agar nanti kita tidak salah dalam bertindak. Saran dari penyusun agar para pembaca dapat menguasai materi singkat dalam makalah ini dengan baik, kemudian pembaca dapat mengetahui cara pencegahan penyakit tersebut.









DAFTAR PUSTAKA
Elmart. F. C. C, Mahir Menjaga Organ Intim Wanita, 2012. Solo : Tiga Serangkai
Baziad. Ali, Prabowo. R P, A. Mochammad, Ilmu Kandungan.Ed 3, Cet 1. 2011. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo
Departemen Kesehatan RI. 2002. Pedoman Operasional Pelayanan Terapadu Kesehatan Reproduksi di Puskesmas. Jakarta : Departemen Kesehatan
Parker, Catharine. 2010. Konsultasi Kebidanan.
Aziz FM. Deteksi dini kanker, skrining dan deteksi dini kanker serviks; ed Ramli Muchlis dkk. Jakarta: Fakultas Kedokteran Indonesia;2002. 97-110.
Rahmat Y. Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks,;2001. Available from URL : http://www.farmacia.com.rahmat pltektk93 yahoo.com
Suryana GR. Tiap jam satu penderita kanker serviks di Indonesia meninggal. Media Indonesia.com 2011 Maret 25; Available from URL : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/17/211011/71/14/Tiap-Jam-Satu Penderita-Kanker-Serviks-di-Indonesia-Meninggal
Yuanda, IGA. Papnet, papsmear yang makin canggih. 2001. Available from URL : http://www.indomedia.com