Sabtu, 15 Maret 2014
Selasa, 08 Oktober 2013
Makalah "Kanker Serviks"
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kanker serviks merupakan penyakit kanker perempuan
yang menimbulkan kematian terbanyak akibat penyakit kanker terutama di Negara
berkembang. Diperkirakan dijumpai kanker serviks baru sebanyak 500.000 orang
diseluruh dunia dan sebagian besar terjadi di Negara berkembang.
Di Indonesia, setiap satu jam seorang wanita
meninggal karena kanker serviks. Penyakit ini sering disebut juga “silent
killer” karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari
infeksi virus menjadi kanker ini membutuhkan waktu cukup lama, yaitu sekitar 10
– 20 tahun.
Salah satu penyebabnya adalah karena infeksi human
Papilloma Virus (Hpv)yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks.
Dalam perkembangan kemajuan di bidang biologi molekuler dan epidemologi
tentang, kanker serviks disebabkan oleh virus Hpv . banyak penelitian dengan
studi kasus kontrol dan kohort didapatkan Risiko Relatif (RR) hubungan antara
infeksi Hpv dan kanker serviks antara 20 sampai 70. Infeksi Hpv merupakan penyakit
menular seksual yang utama pada populasi, dan estimasi terjangkit berkisar 14 –
20% pada Negara-negara di Eropa sampai 70% di Amerika Serikat, atau 95% di
populasi di Afrika. Lebih dari 70% kanker serviks disebabkan oleh infeksi Hpv
tipe 16 dan 18. Infeksi Hpv mempunyai prevalensi yang tinggi pada kelompok usia
muda, sementara kanker serviks baru timbul pada usia puluhan tahunan atau
lebih.
Kesintasan hidup 5 tahun pada kanker serviks jenis
skuamosa dengan berbagai modalitas pada 9.964 kasus.
Virus HPV risiko
tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 7,16, 18, 31,
33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan mungkin masih terdapat beberapa
tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker
leher rahim disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Asam amino tersebut adalah aspartat
pada HPV risiko tinggi dan glisin pada HPV risiko rendah dan sedang (Gastout et
al, 1996). Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker
leher rahim. Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat perbedaan probabilitas
terjadinya kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV-18 baik secara
sendiri-sendiri maupun bersamaan (Bosch et al, 2002). Akan tetapi sifat
onkogenik HPV-18 lebih tinggi daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur
dimana transformasi HPV-18 adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan
HPV-16. Selain itu, didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat
meningkatkan virulensi virus dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16
berhubungan dengan skuamous cell carcinoma serviks sedangkan HPV-18 berhubungan
dengan adenocarcinoma serviks. Prognosis dari adenocarcinoma kanker serviks
lebih buruk dibandingkan squamous cell carcinoma. Peran infeksi HPV sebagai
faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati kesepakatan, tanpa
mengecilkan arti faktor resiko minor seperti umur, paritas, aktivitas seksual
dini/prilaku seksual, dan merokok, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain
dan beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan
HSV-2 (Hacker, 2000).
Seseorang yang
sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki Kanker serviks atau kanker leher rahim
merupakan penyebab kematian akibat kanker yang terbesar bagi wanita di
negara-negara berkembang. Secara global terdapat 600.000 kasus baru dan 300.000
kematian setiap tahunnya, yang hampir 80% terjadi di negara berkembang.
Fakta-fakta tersebut membuat kanker leher rahim menempati posisi kedua kanker
terbanyak pada perempuan di dunia, dan menempati urutan pertama di negara
berkembang. Saat ini, kanker leher rahim menjadi kanker terbanyak pada wanita
Indonesia yaitu sekitar 34% dari seluruh kanker pada perempuan dan sekarang 48
juta perempuan Indonesia dalam risiko mendapat kanker leher rahim. Kanker leher
rahim adalah kanker yang terjadi pada area leher rahim yaitu bagian rahim yang
menghubungkan rahim bagian atas dengan vagina. Usia rata-rata kejadian kanker
leher rahim adalah 52 tahun, dan distribusi kasus mencapai puncak 2 kali pada
usia 35-39 tahun dan 60 – 64 tahun.
BAB
II
ISI
A. PENGERTIAN
Kanker serviks atau yang disebut
juga sebagai kanker mulut rahim merupakan salah satu penyakit kanker yang
paling banyak ditakuti kaum wanita. Berdasarkan data yang ada, dari sekian
banyak penderita kanker di Indonesia, penderita kanker serviks mencapai
sepertiga nya. Dan dari data WHO tercatat, setiap tahun ribuan wanita meninggal
karena penyakit kanker serviks ini dan merupakan jenis kanker yang menempati
peringkat teratas sebagai penyebab kematian wanita dunia. Kanker serviks
menyerang pada bagian organ reproduksi kaum wanita, tepatnya di daerah leher
rahim atau pintu masuk ke daerah rahim yaitu bagian yang sempit di bagian bawah
antara kemaluan wanita dan rahim.
Kanker serviks
adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di daerah Skuamo Kolumner Junction yaitu daerah
peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan
kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ
reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara
rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker leher rahim biasanya
menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher rahim
berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari
sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Sebelum terjadinya
kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut lesi prakanker atau neoplasia
intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker leher rahim adalah infeksi
Human Papilloma Virus(HPV). Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah dapat
teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual.
Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang menimbulkan kanker, sedangkan tipe
yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupun tipe
risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal pada sel tetapi pada
umumnya hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat memicu kanker.
B. MEKANISME KANKER SERVIKS
Secara normal gen-gen meregulasi pertumbuhan dan pembelahan sel selama
siklus sel, seperti gen untuk faktor pertumbuhan beserta reseptornya dan
molekul intraselular jalur persinyalan. Bila terjadi mutasi gen-gen dapat dalam
sel somatik menyebabkan kanker. Pada kanker serviks agen pengubahnya sering dihubungkan
dengan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker leher rahim.
Sel kanker serviks yang diinfeksi HPV diketahui mengekspresikan 2 onkogen,
yaitu E6 dan E7. Protein E6 dan E7 terbukti dapat menyebabkan sifat imortal
pada kultur primer keratinosit manusia, namun sel yang imortal ini tidak
bersifat tumorigenik hingga suatu proses genetik terjadi. Jadi, viral onkogen
tersebut tidak secara langsung menginduksi pembentukan tumor, tetapi
menginduksi serangkaian proses yang pada akhirnya dapat menyebabkan sifat
kanker. Sifat immortal tersebut disebabkan karena kedua viral onkogen tersebut
dapat menghambat ekspresi gen p53 yang mengendalikan apoptosis. Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang
sudah dapat teridentifikasi, 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan
seksual. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual
adalah tipe 7, 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan
mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian
mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16
dan 18. Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker
leher rahim. Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki kemungkinan
terkena kanker leher rahim sebesar 5%.
Tabel Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000
|
Stadium 0
|
Karsinoma insitu,
karsinoma intrapitelial
|
|
Stadium I
|
Karsinoma masih
terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)
|
|
Stadium I A
I A1
I A2
|
Invasi kanker ke
stroma hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik, lesi yang dapat dilihat
makroskopik walau dengan invasi yang superficial dikelompokkan pada pada
stadium IB
|
|
Invasi ke stroma
dengan kedalaman tidak lebih 3,0 mm dan lebar horizontal lesi tidak lebih 7
mm
|
|
|
Invasi ke stroma
lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan perluasan horizontal tidak lebih
dari 7 mm
|
|
|
Stadium I B
I B1
I B2
|
Lesi yang tampak
terbatas pada serviks atau secara mikroskopik lesi lebih luas dari stadium I
A2
|
|
Lesi tampak tidak
lebih dari 4 cm dari dimensi terbesar
|
|
|
Lesi tampak lebih
dari 4 cm dari diameter terbesar
|
|
|
Stadium II
II A
II B
|
Tumor telah
menginvasi di luar uterus, tetapi belum mengenai dinding panggul atau
sepertiga distal/bawah vagina
|
|
Tanpa invasi ke
parametrium
|
|
|
Sudah menginvasi parametrium
|
|
|
Stadium III
|
Tumor telah
meluas ke dinding panggul dan/atau mengenai sepertiga bawah vagina dan/atau
menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal
|
|
IIIA
IIIB
|
Tumor telah
meluas k eke sepertiga bawah vagina dan tidak invasi ke parametrium tidak
sampai dinding panggul
|
|
Tumor telah
meluas ke dinding panggul dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau tidak
berfungsinya ginjal
|
|
|
Stadium IV
|
Tumor meluas ke
luar dari organ reproduksi
|
|
IV A
IV B
|
Tumor menginvasi
ke mukosa kandung kemih atau rectum dan/atau ke luar dari rongga panggul
minor
|
|
Metastasis jauh
penyakit mikroinvasif : invasi stroma dengan kedalaman 3 mm atau kurang dari
membrane basalis epitel tanpa invasi ke rongga pembuluh limfe/darah atau
melekat dengan lesi kanker
|
C.
PENYEBAB
KANKER SERVIKS
Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus
(HPV), sekitar 70 – 80% disebabkan oleh HPV tipe 16 dan tipe 18.
-
Faktor Resiko :
1)
Usia sekitar 35 – 49
tahun
2)
Perkawinan muda <
20 tahun ; berhubungan seksual
3)
Mitra seksual ganda (
> 5 : 12 x )
4)
Wanita terkena PMS
5)
Wanita merokok
6)
Defisiensi Vitamin A,
C, E
7)
Wanita yang sering
hamil dan melahirkan
D.
GEJALA
DAN TANDA
Tanda-tanda dini kanker serviks mungkin tidak
menimbulkan gejala. Tanda-tanda spesifik seperti secret vagina yang agak
berlebihan dan kadang-kadang disertai dengan bercak perdarahan, terasa sakit
saat berhubungan seksual, pendarahan di luar menstruasi, keputihan yang
abnormal. Pada penyakit lanjut keluhan berupa keluar cairan pervaginam yang
berbau busuk, nyeri panggul, sering berkemih, BAK atau BAB yang sakit. Gejala
penyakit yang residif berupa nyeri pinggang, edema kaki unilateral, dan
obstruksi ureter.
E.
PEMERIKSAAN
Tes pap smear dan IVA test saat ini merupakan alat
skrining yang diandalkan. Lima puluh persen pasien baru kanker serviks tidak
pernah melakukan tes pap smear maupun IVA test. Test Pap smear direkomendasikan
pada saat mulai melakukan aktivitas seksual atau setelah menikah. Setelah tiga
kali pemeriksaan test pap smear tiap tahun, interval pemeriksaan dapat lebih
lama (tiap 3 tahun sekali). Bagi kelompok perempuan yang berisiko tinggi
(infeksi HPV, HIV, Kehidupan seksual yang berisiko) dianjurkan pemeriksaan tes
Pap setiap tahun. Pemastian diagnosis dilaksanakan dengan biopsy serviks.
Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan klinis berupa anamnesis,
pemeriksaan fisik dan ginekologik, termasuk evaluasi kelenjar getah bening,
pemeriksaan panggul dan pemeriksaan rectal. Biopsy serviks merupakan cara
diagnosis pasti dari kanker serviks, sedangkan tes Pap dan/atau kuret
endoserviks merupakan pemeriksaan yang tidak adekuat. Pemeriksaan radiologic
berupa foto paru-paru, pierologi intravena atau CT-scan merupakan pemeriksaan
penunjang untuk melihat perluasan penyakit, serta menyingkirkan adanya
obstruksi ureter. Pemeriksaan laboratorium klinik berupa pemeriksaan darah
tepi, tes fungsi ginjal, dan tes fungsi hati diperlukan untuk mengevaluasi
fungsi organ serta menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan.
F.
PERAN
BIDAN DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT
Pencegahan
:
-
Primer : bidan dapat memberikan
penyuluhan kepada para wanita untuk menghindari penyebab dan factor resiko
kanker serviks
-
Sekunder : bidan dapat menganjurkan
untuk melakukan deteksi dini dengan pap smear dan IVA test
-
Tersier : bidan dapat memberikan
penyuluhan untuk melakukan vaksin HPV 3 kali kepada remaja putrid yang belum
melakukan hubungan seksual
G. KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada kasus kanker
serviks stadium lanjut, antara lain :
·
Nyeri
Jika kanker menyebar ke ujung saraf, tulang atau otot sering dapat menyebabkan rasa nyeri yang luar biasa. Namun, sejumlah obat-obatan penghilang rasa sakit yang efektif biasanya dapat digunakan.
Jika kanker menyebar ke ujung saraf, tulang atau otot sering dapat menyebabkan rasa nyeri yang luar biasa. Namun, sejumlah obat-obatan penghilang rasa sakit yang efektif biasanya dapat digunakan.
·
Gagal
ginjal
Ginjal menghilangkan bahan limbah dari darah. Limbah
dibuang keluar dari tubuh dalam urin melalui tabung yang disebut ureter. Dalam
beberapa kasus kanker serviks stadium lanjut, tumor kanker (pertumbuhan
jaringan abnormal) dapat menekan ureter, menghalangi aliran urin keluar dari
ginjal. Sehingga urin tertampung dalam ginjal dikenal sebagai hidronefrosis dan
dapat menyebabkan ginjal menjadi bengkak dan rusak.
·
Bekuan
darah
Kanker serviks, seperti kanker lainnya, dapat membuat
darah ‘lebih lengket’ dan membuatnya lebih rentan terhadap penyumbatan.
Istirahat di tempat tidur setelah operasi dan kemoterapi juga dapat
meningkatkan risiko mengalami penggumpalan darah sehingga menyumbat aliran
darah. Biasanya terjadi pada
ektermitas bawah.
·
Pendarahan
Jika kanker menyebar ke usus vagina atau kandung kemih, dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan, mengakibatkan pendarahan. Perdarahan dapat terjadi pada vagina, rektum (bagian belakang), atau mungkin mengeluarkan darah ketika buang air kecil.
Jika kanker menyebar ke usus vagina atau kandung kemih, dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan, mengakibatkan pendarahan. Perdarahan dapat terjadi pada vagina, rektum (bagian belakang), atau mungkin mengeluarkan darah ketika buang air kecil.
·
Fistula
Fistula merupakan komplikasi yang jarang terjadi namun menyedihkan yang terjadi di sekitar 1 dalam 50 kasus kanker serviks stadium lanjut.
Fistula adalah saluran abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh. Dalam kebanyakan kasus yang melibatkan kanker serviks, fistula berkembang antara kandung kemih dan vagina. Dan kadang-kadang fistula berkembang antara vagina dan dubur.
Fistula merupakan komplikasi yang jarang terjadi namun menyedihkan yang terjadi di sekitar 1 dalam 50 kasus kanker serviks stadium lanjut.
Fistula adalah saluran abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh. Dalam kebanyakan kasus yang melibatkan kanker serviks, fistula berkembang antara kandung kemih dan vagina. Dan kadang-kadang fistula berkembang antara vagina dan dubur.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kanker
serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di daerah
Skuamo Kolumner Junction yaitu daerah
peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis.
Penyebab
dari kanker serviks adalah Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini memang banyak
tipenya namun, sekitar 70 % kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18.
Virus ini dapat menyebar melalui sentuhan.
Gejala
dari kanker serviks adalah diantaranya terasa sakit saat berhubungan seksual,
mengeluarkan sedikit darah setelah berhubungan seksual, keluar darah yang
berlebihan saat menstruasi, dan keputihan yang abnormal dll.
B.
SARAN
Dengan adanya makalah sederhana ini, penyusun mengharapkan agar
para pembaca dapat memahami materi tentang penyakit ‘’Kanker Serviks’’ yang
seharusnya kita ketahui agar nanti kita tidak salah dalam bertindak. Saran dari
penyusun agar para pembaca dapat menguasai materi singkat dalam makalah ini
dengan baik, kemudian pembaca dapat mengetahui cara pencegahan penyakit
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Elmart. F. C. C, Mahir
Menjaga Organ Intim Wanita, 2012. Solo : Tiga Serangkai
Baziad. Ali, Prabowo. R P, A. Mochammad, Ilmu Kandungan.Ed 3, Cet 1. 2011.
Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo
Departemen Kesehatan RI. 2002. Pedoman Operasional Pelayanan Terapadu Kesehatan Reproduksi di
Puskesmas. Jakarta : Departemen Kesehatan
Parker, Catharine. 2010. Konsultasi Kebidanan.
Aziz FM. Deteksi
dini kanker, skrining dan deteksi dini kanker serviks; ed Ramli Muchlis
dkk. Jakarta: Fakultas Kedokteran Indonesia;2002. 97-110.
Rahmat Y.
Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker
Serviks,;2001. Available from URL : http://www.farmacia.com.rahmat
pltektk93 yahoo.com
Suryana GR. Tiap
jam satu penderita kanker serviks di Indonesia meninggal. Media
Indonesia.com 2011 Maret 25; Available from URL : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/17/211011/71/14/Tiap-Jam-Satu
Penderita-Kanker-Serviks-di-Indonesia-Meninggal
Yuanda, IGA. Papnet,
papsmear yang makin canggih. 2001. Available from URL : http://www.indomedia.com
Langganan:
Postingan (Atom)
